Wednesday, September 5, 2018

Mahasiswa IAIN Palangka Raya Jadi Duta Indonesia Youth Teacher Exchange Program (IYTEP) di Thailand




Indonesia Youth Teacher Exchange Program (IYTEP) yang diadakan oleh Language Lovers Club (L2C) yang merupakan penggiat kebahasaan dan pengajaran di Luar negri ini kembali mengirimkan perwakilan Indonesia yang kali ini bertandang ke Thailand. Program yang mengirimkan perwakilan dari setiap kampus di Indonesia ini tidak lepas dari pengamatan tim Al-Mumtaz terlebih salah satu perwakilannya membawa nama IAIN Palangka Raya.
Ahmad Rusda Yanto, Mahasiswa prodi Tardis Bahasa Inggris semester 5 ini menjadi salah satu mahasiswa yang terpilih mewakili IAIN Palangka Raya dalam mengikuti program IYTEP ini. Dalam wawancara tim Al-Mumtas (13/08) Rusda menceritakan sedikit pengalamannya dalam mengikuti program ini. Dalam rentang waktu yang cukup singkat sekitar 25 hari yakni dari tanggal 16 juli-06 Agustus bertempat di Thailand Selatan, yang mana mereka akan ditempatkan di sekolah-sekolah yang telah ditentukan panitia yang terdiri dari ikatan Persatuan Alumni Indonesia-Thailand.
Program yang sekilas terlihat layaknya mahasiswa KKN pada umumnya ini dilakukan dengan proses belajar-mengajar baik dalam jam sekolah seperti pengajaran akademik dan diluar jam sekolah yaitu pengajaran spiritual pada anak. “Sebagai anak Bahasa” kata Rusda “saya mengajarkan pelajaran bahasa pada anak-anak. Dalam program ini, kami dituntut untuk mengajarkan pelajaran seperti kebahasaan dan keagamaan kepada anak-anak. Seperti bahasa Melayu, Indonesia, Arab dan Inggris.” Menurut penuturannya, Mahasiswa yang terikat disini tidak hanya mengajarkan program yang wajib saja tetapi juga segala talenta yang mereka kuasai dapat mereka ajarkan juga.
Tidak hanya itu, mereka juga berkesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan warga sekitar tempat mereka ditugaskan. Seperti Rusda, yang ditempatkan di daerah Pattani ini, merasa bersahabat dengan lingkungan yang ditempatinya selama kurang lebih 25 hari lamanya. Selain dalam hal kepengajaran di sekolah, mereka juga mengadakan beberapa program di Masjid sekitar, seperti pengajaran Tartil Qur’an, Khatib dan Bilal (khusus laki-laki) dan Tahfidz Qur’an untuk anak-anak.
Dengan adanya program ini, anak-anak merasa senang dengan kehadiran mereka walaupun dalam kurun waktu yang cukup singkat sudah membawa suasana pengajaran yang menarik untuk anak-anak di daerah tersebut. “Dengan berbekal sedikit arahan dari para senior IYTEP, mengingat perbedaan bahasa yang digunakan antara kami yang menggunakan bahasa Melayu-Klantan dan mereka yang menggunakan bahasa Melayu-Pattani membuat kami sedikit kesulitan dalam berkomunikasi.” Tuturnya dalam wawancara kami kali ini.
Sebagaimana yang sering dikatakan dimana ada perjumpaan pasti ada perpisahan, mungkin inilah yang mereka rasakan dengan warga Pattani saat program ini telah berakhir, sedikit rasa sedih pasti akan terasa saat sudah merasa nyaman dengan lingkungan kita, namun bukan berarti hal itu merupakan akhir dari segalanya. Sebagai mahasiswa yang baru menempuh semester 5 pengalaman ini tentu sangat berharga bagi Rusda sendiri. Diakhiri satu pesan dari narasumber kami kali ini, yaitu “untuk semua mahasiswa jangan pernah berhenti untuk bermimpi, karena semua perjalanan kita diawali dengan sebuah mimpi yang akhirnya akan membawa kita pada sebuah perjalanan yang sesungguhnya.”

0 comments:

Post a Comment