Thursday, February 27, 2020

KISAH LUQMAN BAEHAQI, CALON DOKTOR MUDA PRODI TBI IAIN PALANGKA RAYA DI NEGERI KANGGURU; MENJADI SPEEDBOAT DI NEGERI ORANG

       Terbangun lagi di tengah malam. Jam dinding menunjukkan pukul 2.03 waktu Australia Utara. Ini bukan sekali dua kali. Bangun tengah malam karena mimpi dikejar-kejar buku, terlilit tulisan, dikejar bule-bule zombie yang ganas. Salah satu zombienya supervisorku. Aku gelagapan tengah malam, kadang ngelindur (mengigau). Sisi positifnya, Alhamdulillah, bisa Tahajud. Bukan resah, aku malah senang.


       Inilah tekanan akademik menuntun ilmu di negeri orang. Pikiran tentang disertasi terbawa mimpi. Urusan tulisan ikut kealam bawah sadar itu keren. Wajib disyukuri. Artinya aku masih fokus dan dibuat fokus oleh Sang Pemilik Ilmu. Bahkan setelah mendapat “nightmare” yang konyol.


      Sejak aku menginjakkan kaki di kampus Negeri Kangguru ini, aku memang sempat mengalami academic culture shock. Semua tampak berbeda. Terutama sistem belajar. Ibarat lomba lari di lintasan. Saat mereka bersiap posisi sprint di lintasan, aku baru datang. Bingung. Bengong. Garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Aku bahkan masih harus belajar cara lari yang benar. Dengan cepat aku mengevaluasi keadaanku. Speed reading ku tidak efektif. Handwriting skill kurang cepat. Critical thinking belum memuaskan. Paraphrasing, summarizing, synthesizing, critical reviewing skills bikin frustasi. Aku menyimpulkan ada yang salah dengan sistem belajarku. Yang kurasakan mewakili rasa warga +62. Ada yang salah di mindset dan strategi. Bahkan, dengan nyinyir layaknya follower akun gosip @lambeturah, aku tega generalisasi ke “hampir kebanyakan” siswa di Indonesia mengalami kesalahan strategi belajar. Kenyinyiranku kulandasi bukti bahwa, keluhan yang sama juga dirasakan “hampir kebanyakan” teman segrup watssp yang, notabene, dosen-dosen pemeroleh beasiswa kuliah di luar negeri. Ada pepatah guru kencing berdiri murid kencing berlari. Walaupun asumsi ini mungkin akan dibantah lulusan lembaga pendidikan yang merasa “super” favorit. Mereka yang terbiasa dengan atmosfir belajar kompetitif tidak rela dimasukkan dalam kategori “hampir kebanyakan”. Gengsi.

      
      Semua skill akademik yang kusebutkan diatas, selama ini, cenderung diabaikan. Guru/dosen  tidak membuka rahasia cara membaca cepat tapi ilmu tetap lengket diotak. Guru/dosen tidak menganjurkan pentingnya mengetik cepat 10 jari. Bukan 11 jari! Guru/dosen bahkan kurang sabar, tidak tega, terhadap urusan paraphrasing, summarizing, synthesizing skills. Mereka cenderung masa bodoh ketika tugas, paper, makalah, skripsi hanyalah tumpukan copy paste yang tidak dipahami siswanya. Naskah contekan bin ketidakjujuran kadang masih mendapat nilai 8-9. Asal tebal. Mahasiswa bangga mendapat IPK tinggi walau tidak berbanding lurus dengan kemampuan. Mahasiswa Bahasa Inggris tapi tidak bisa berbicara Bahasa Inggris; tidak punya kemampuan menulis dalam Bahasa Inggris; tidak paham bagaimana cara belajar dan mengajarkan Bahasa Inggris yang efektif. Bertahun-tahun kuliah tidak membentuk karakter pembelajar sejati. Aiihhh…..pedes. Selamat datang ke negri santuy dimana kulit luar yang normative lebih penting daripada substansi.

      Kemampuan belajar ada maqom-nya. Ada level piramida tertinggi yang harus dicapai. Kamu tidak boleh puas hanya bisa membaca dan menulis saja. Itu maqom terendah. Anak SD juga bisa. Hindari virus malas belajar yang hobi mendekam di bilik-bilik zona nyaman. Virus MALAS berbahaya bagi peradaban. Lebih epidemic daripada virus Coronavirus COVIN-19. Virus ini membuat kau kehilangan emosi dan kehilangan momentum perubahan. Meraih maqom cinta belajar, cirinya cinta membaca, cinta menulis dan menerapkannya. Inilah kemampuan yang akan membentuk peradaban.
       Salah satu kemampuan berharga dalam tolabul ilmi adalah mengelola emosi. Otak manusia sangat responsive. Supervisorku orang yang baik. Tapi dalam situasi tertentu cara mengkritiknya bar-bar. Dengan Bahasa yang kaya celaan. Sumpah serapah itu biasa. Pemilik mentalitas lemah pasti akan tersinggung, sakit hati, marah, ambeyen kumat dan putus asa. Emosi terganggu. Aku mencoba mengakalinya. Setiap kali dicela aku jadikan sebagai bensin bagi mesin semangatku. Mesinku jadi hidup. Semangatku membara. Akupun berlari lebih cepat (Hei, jangan meremehkan jihad anak perantauan). Semangat dan produktifitas belajar bisa diukur. Durasi fokusku menjadi lebih lama.  Berjam-jam. Aku kuat belajar dari pagi sampai jauh malam. Tanpa extra jozz. Tanpa kopi. Tanpa ngantuk. Cukup ditemani air putih, Didi Kempot, Rhoma Irama, dan Rita Sugiarto. Aku bertransformasi menjadi speedboat yang melaju di sungai Kahayan (untung bukan kelotok). Wuss….

      Namun, kasusku selalu unik. Suatu hari setelah berbulan-bulan membaca ratusan buku, artikel dan menuliskannya, aku menemui supervisorku. Surprisingly, beliau memuji kualitas critical reviewku “Excellent Luqman, you’ve done a great work. I love your writing”. Walau sempat menggangap ini hanya basa basi, aku melambung. Bangga. Pulang konsultasi aku senyum-senyum sambil mengepalkan jempol (?). 2 hari hanya kuhabiskan nonton Channel Atta Halilintar gerebek gubuk Donald Tump. Lupa membaca buku, gak ada ide menulis. Kuterlena. Ternyata aku masih melambung. Lupa turun 2 hari 1 malam. Otak memang unik. Didalamnya ada buluh emosi yang super responsive. Manusia harus kelola dengan cerdas. Celaan bisa jadi bensin semangat. Pujian bisa jadi air yang bikin mesin ngadat. Vice versa. Allah selalu menunjukkan causal-relationship pada setiap masalah.  
       Kau mungkin terlahir dari DNA ibu yang cerdas atau DNA bapak yang skillful, tapi bila jiwamu terkontaminasi virus malas, maka kamu akan bernasib seperti prodigy sepak bola gagal menjadi the next Messi, atau the next Cristiano Ronaldo. Karir mereka gagal karena kurangnya determinasi untuk terus berlatih. Terlalu cepat puas. Freddy Adu tak punya strategi bermain one-two. Allen Halilovic kebanyakan main game. Seorang alien sepakbola seperti Lionel Messi bahkan masih perlu berlatih placing, dribbling, shooting. Atau CR7 yang gila-gilaan melatih otot paha agar mampu melompat lebih tinggi. Menurut Damasio (1995) dan Ramachandran (1998), pakar neuroscience, peran otak sangat besar memicu semangat. Stimulus terhadap otak kiri (left hemisphere) dan otak kanan (right hemisphere) harus seimbang untuk menjaga fikiran tetap waras dan cerdas.
….. anyway, sudah ya. Kebanyakan kata malah bikin bosan. Ini hanya obrolan refleksi tengah malam. Saat kodok-kodok Australia benyanyi riang di tengah hujan yang mengguyur. Salam semangat!

Moil, Northern Territory. Australia. Malam, 28 Februari 2020

Catatan:

Sang Penulis, Luqman Baehaqi, S.S., M.Pd adalah Dosen muda kelahiran tahun 1982 pada Prodi Tadris Bahasa Inggris yang sedang menempuh program Doktor di Australia

5 comments:

  1. Merasa ditampar oleh kalimat "...bertahun-tahun kuliah tidak membentuk karakter pembelajar sejati. Apakah itu aku?

    ReplyDelete
  2. The life story interesting and inspire Mister

    ReplyDelete
  3. Sangat menginspirasi Mr. Semangat untuk kita semua!

    ReplyDelete
  4. Kalo baca tulisannya serasa ada suara bapak Luqman langsung wkwkwk

    ReplyDelete